Jumat, 18 April 2014

Studi Budaya dan Teknologi Komunikasi



Teknologi dan budaya di sini memliki sejarah yang panjang. Jenis studi budaya ini sangatlah cocok untuk mengkritisi sebuah situasi seperti ini dan mudah sekali untuk menempatkan berbagai cara alternatif kita dalam memahami dan membentuk sebuah hubungan antara teknologi dan budaya khususnya. Nah, dalam konteks ini studi budaya berasal dari fakta yang telah diteliti oleh beberapa pakar dan penggunaan sebuah artikulasi yang baik agar bisa dijadikan alat untuk menganalisis dan mengkritik asumsi dalam praktek teknologi, dan berkontribusi pada pembangunan yang berkelanjutan demi memajukan teknologi baru. Nelson menyatakan bahwa pengantar kajian budaya ini mempunyai salah satu manfaat yang lebih, karena menawarkan sebuah biografi. Budaya inipun baik untuk dipahami karena cara hidupnya yang memiliki gagasan, sikap, bahasa, praktik, institusi dan struktur kekuasaan serta berbagai macam praktek kebudayaan berbentuk seni, teks, meriam, arsitektur, komoditas yang diproduksi secara massal. Teori, metode, dan praktik ini adalah beberapa macam cara agar bisa terlibat dalam pencarian identitas. Di sinilah posisi kajian budaya sangat berpotensi, sehingga kita dapat mengatakan bahwa analisis budaya memerlukan sebuah fokus yang sama pada analisis teknologi. Secara historis, ada berbagai macam cara untuk memahami peran teknologi dalam focus budaya contohnya teknologi media baru yang memainkan peran sentral dalam perubahan konfigurasi ekonomi global politik, teknologi media baru yang memberikan kontribusi untuk mendefinisikan sebuah organisasi pengetahuan baru, serta dalam era informasi dan teknologi media baru inilah keadaan yang cocok untuk memainkan peran dalam budaya populer. Nah, jika secara teoritis kajian budaya ini fokus pada masalah yang memiliki sebuah pemahaman dan perdebatan tentang hubungan teknologi dan budaya.
Jenis kemampuan melek media anak saat ini sama kerasnya dengan kemampuan untuk memastikan kelangsungan hidup mereka di abad 21 ini. Dalam hal ini kita tidak mendiskusikan teknologi media baru dan budaya saja loh, tetapi kita juga mendiskusikan tentang studi budaya secara historis dan teoritis. Pada kesamaan studi inilah kita bisa mengarahkan pada artikulasi antara sosiologis dan budaya untuk dihubungkan dengan studi teknologi. Di sini telah disebutkan pertanyaan kausalitas alam, dengan maksud selama ini penyamaran telah menakut-nakuti studi tentang teknologi baru dari sisi sejarahnya. Adanya tingkat absurditas yang tinggi ini menggambarkan semua jenis efek yang bereaksi kepada kebutuhan dan hasrat dari perlakuan teknologi. Latour sangat berpengaruh terhadap perkenalan gagasan jika teknologi di sini berperan sebagai aktor yang melatih agen. Donna Haraway adalah seseorang yang telah dipengaruhi oleh teori jaringan aktor Latour itu untuk menghubungkan gagasan aktor dengan konsep artikulasi yang ada. Konsep dari sebuah pergerakan teknologi bergantung kepada adanya ketidakterarahan, adanya perubahan dengan model evolusioner, dan adanya konsepsi pengantar secara teleologis. Studi kebudayaan dalam teknologi media baru tidak terlalu mengekspos kepentingan pekerjaan mereka sebagaimana kita bisa menempatkan kebutuhan mereka untuk mengartikulasi kembali. Secara metodologi, studi budaya yang bergabung dengan praktek ginealogi secara eksplisit merintangi sebuah laporan kemajuan karena ginealogi adalah pekerjaan yang membuat kita berpikir secara berulang-ulang. Persoalan identitas selalu menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran kebudayaan untuk mengkaji identitas jenis kelamin, ras dan bias kelas teknologi. Bias teknologi terhadap desentralisasi ini telah menunjukkan sebuah sikap demokrasi yang ada dalam internet meskipun bias bukanlah hal yang pasti. Jika kita berbicara teknologi politik, setidaknya ada dua hal yang berpengaruh dalam penggunaan politik contohnya beredarnya argumen yang lebih spesifik. Dalam perdebatan ini, seringkali kita bergantung pada pandangan netral teknologi yang membutuhkan kondisi sosial yang baik dan pengaturan untuk bekerja dari beberapa teknologi yang kurang atau lebih dengan sistem sosial yang berbeda. Selain bias teknologi ada bias gender yang menggambarkan bahwa bias gender teknologi memiliki kegunaan politik. Timbullah sebuah masalah yang sama mengenai ras dan lingkungan online. Meskipun kita bekerja pada bias rasial media baru, tetapi pada jenis kelaminlah masalah ini ditangani oleh kesenjangan digital.
Pada tahun 1989 dan tahun 1992, para ilmuwan seperti Berland dan Carey berargumentasi bahwa tekonologi elektronik modern di sini mempunyai ruang bias yang berkaitan dengan kontrol. Budaya kontemporer ini mulai mempelajari isu dari teknologi dan ruang sosial dalam beberapa kesempatan dari tradisi sebelumnya. Pendekatan teknologi dalam terminologi di sini ada pada pertimbangan materi dari teknologi itu sendiri, sistem itu sendiri, umur jaringan dan koneksi fisik itu sendiri. Lain halnya dengan komunitas virtual, komunitas virtual merupakan jaringan yang telah memenuhi prosedur, tetapi terorganisir dan mempunyai banyak materi dalam sebuah jaringan itu. Perubahan representasi ruang dengan media baru menghadirkan teknologi media baru sebagai perbatasan baru, misalnya sebuah lingkungan mall, salon atau cafe. Dalam masalah pengawasan pendekatan teknologi dan ruang sosial masih bertumpang tindih dengan pendekatan teknologi, politik dan kekuasaan. Kontemporer studi budaya bekerja dalam ruang sosial yang membahas lika-liku kehidupan kita sehari-hari dan globalisasi yang berkaitan dengan kajian budaya melalui infleksi bangsa Latour tentang teknologi sebagai aktor sosial. Sebuah perspektif tentang kajian budaya kontemporer pada teknologi dan kehidupan sehari-hari ini sangat penting mengingat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam lingkungan masyarakat. Keputusan mengenai teknologi media baru merupakan sebuah tekanan dalam kajian budaya untuk menghubungkan pemahaman teoritis dengan praktek pembuatan keputusan. Selalu mudah untuk membuat kritik dan saran orang lain dalam tempat lain, tetapi jika kita berpegang teguh pada aspek konjungsi kajian budaya kita, kita harus menghadapi profesi kita sendiri yang sering terjadi dalam konteks pendidikan yang lebih tinggi. Sterne mengatakan “karakiteristik dalam mengklaim bahwa penggunaan ‘Kajian Budaya’ pada Internet seharusnya diukur dengan tahap yang mana penelitian tersebut dapat membuat pembacanya untuk berpikir”. Nah di sini dijelaskan bahwa kajian budaya merupakan sebuah dorongan antitetik yang jelas pada motivasi para praktisinya, tetapi karena kajian budaya ini sulit untuk menemukan jalan teori dalam pengidentifikasian ahli budayanya sebagai technophilic, technophobik atau oportunistik maka akan jelas sekali bahwa ada pekerjaan yang belum dijalankan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar