Teknologi
dan budaya di sini memliki sejarah yang panjang. Jenis studi budaya ini sangatlah
cocok untuk mengkritisi sebuah situasi seperti ini dan mudah sekali untuk
menempatkan berbagai cara alternatif kita dalam memahami dan membentuk sebuah hubungan
antara teknologi dan budaya khususnya. Nah, dalam konteks ini studi
budaya berasal dari fakta yang telah diteliti oleh beberapa pakar dan
penggunaan sebuah artikulasi yang baik agar bisa dijadikan alat untuk
menganalisis dan mengkritik asumsi dalam praktek teknologi, dan berkontribusi
pada pembangunan yang berkelanjutan demi memajukan teknologi baru. Nelson menyatakan
bahwa pengantar kajian budaya ini mempunyai salah satu manfaat yang lebih,
karena menawarkan sebuah biografi. Budaya inipun baik untuk dipahami karena
cara hidupnya yang memiliki gagasan, sikap, bahasa, praktik, institusi dan
struktur kekuasaan serta berbagai macam praktek kebudayaan berbentuk seni,
teks, meriam, arsitektur, komoditas yang diproduksi secara massal. Teori,
metode, dan praktik ini adalah beberapa macam cara agar bisa terlibat dalam pencarian
identitas. Di sinilah posisi kajian budaya sangat berpotensi, sehingga kita dapat mengatakan bahwa analisis budaya memerlukan sebuah fokus yang sama pada analisis teknologi. Secara
historis, ada berbagai macam cara untuk memahami peran teknologi dalam focus budaya
contohnya teknologi media baru yang memainkan peran sentral dalam perubahan
konfigurasi ekonomi global politik, teknologi media baru yang memberikan
kontribusi untuk mendefinisikan sebuah organisasi pengetahuan baru, serta dalam era informasi dan teknologi media baru inilah
keadaan yang cocok untuk memainkan peran dalam budaya populer. Nah, jika secara teoritis kajian budaya ini fokus pada masalah yang memiliki sebuah pemahaman dan perdebatan tentang hubungan
teknologi dan budaya.
Jenis
kemampuan melek media anak saat ini sama kerasnya dengan kemampuan untuk memastikan
kelangsungan hidup mereka di abad 21 ini. Dalam hal ini kita tidak
mendiskusikan teknologi media baru dan budaya saja loh, tetapi kita juga mendiskusikan
tentang studi budaya secara historis dan teoritis. Pada kesamaan studi inilah
kita bisa mengarahkan pada artikulasi antara sosiologis dan budaya untuk dihubungkan
dengan studi teknologi. Di sini telah disebutkan pertanyaan kausalitas alam, dengan
maksud selama ini penyamaran telah menakut-nakuti studi tentang teknologi baru dari
sisi sejarahnya. Adanya tingkat absurditas yang tinggi ini menggambarkan semua
jenis efek yang bereaksi kepada kebutuhan dan hasrat dari perlakuan teknologi. Latour sangat berpengaruh terhadap perkenalan gagasan jika teknologi di sini
berperan sebagai aktor
yang melatih agen. Donna Haraway adalah
seseorang yang telah dipengaruhi
oleh teori jaringan aktor Latour itu untuk menghubungkan gagasan aktor dengan konsep
artikulasi yang ada. Konsep dari sebuah pergerakan teknologi bergantung kepada adanya ketidakterarahan,
adanya perubahan dengan model evolusioner, dan adanya konsepsi pengantar secara
teleologis. Studi kebudayaan dalam teknologi media baru tidak terlalu
mengekspos kepentingan pekerjaan mereka sebagaimana kita bisa menempatkan
kebutuhan mereka untuk mengartikulasi kembali. Secara metodologi, studi budaya
yang bergabung dengan praktek ginealogi secara eksplisit merintangi sebuah laporan
kemajuan karena ginealogi adalah pekerjaan yang membuat kita berpikir secara
berulang-ulang. Persoalan identitas selalu menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran
kebudayaan untuk mengkaji identitas jenis kelamin, ras dan bias kelas
teknologi. Bias teknologi terhadap desentralisasi ini telah menunjukkan sebuah
sikap demokrasi yang ada dalam internet meskipun bias bukanlah hal yang pasti. Jika
kita berbicara teknologi politik, setidaknya ada dua hal yang berpengaruh dalam
penggunaan politik contohnya beredarnya argumen yang lebih spesifik. Dalam perdebatan
ini, seringkali kita bergantung pada pandangan netral teknologi yang
membutuhkan kondisi sosial yang baik dan pengaturan untuk bekerja dari beberapa
teknologi yang kurang atau lebih dengan sistem sosial yang berbeda. Selain bias
teknologi ada bias gender yang menggambarkan bahwa bias gender teknologi
memiliki kegunaan politik. Timbullah sebuah masalah yang sama
mengenai ras dan lingkungan online. Meskipun kita bekerja pada bias rasial
media baru, tetapi pada jenis kelaminlah masalah ini ditangani oleh kesenjangan
digital.
Pada tahun 1989 dan tahun 1992, para ilmuwan seperti Berland dan Carey berargumentasi bahwa
tekonologi elektronik modern di sini mempunyai ruang bias yang berkaitan dengan
kontrol. Budaya kontemporer ini mulai mempelajari isu dari teknologi dan ruang
sosial dalam beberapa kesempatan dari tradisi sebelumnya. Pendekatan teknologi
dalam terminologi di sini ada pada pertimbangan materi dari teknologi itu
sendiri, sistem itu sendiri, umur jaringan dan koneksi fisik itu sendiri. Lain
halnya dengan komunitas virtual, komunitas virtual merupakan jaringan yang telah
memenuhi prosedur, tetapi terorganisir dan mempunyai banyak materi dalam sebuah
jaringan itu. Perubahan
representasi ruang dengan media baru menghadirkan teknologi media baru sebagai
perbatasan baru, misalnya sebuah lingkungan mall, salon atau cafe. Dalam masalah
pengawasan pendekatan teknologi dan ruang sosial masih bertumpang tindih dengan
pendekatan teknologi, politik dan kekuasaan. Kontemporer studi budaya bekerja
dalam ruang sosial yang membahas lika-liku kehidupan kita sehari-hari dan
globalisasi yang berkaitan dengan kajian budaya melalui infleksi bangsa Latour
tentang teknologi sebagai aktor sosial. Sebuah perspektif tentang kajian budaya
kontemporer pada teknologi dan kehidupan sehari-hari ini sangat penting mengingat
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam lingkungan masyarakat. Keputusan mengenai teknologi media baru merupakan sebuah tekanan
dalam kajian budaya untuk menghubungkan pemahaman teoritis dengan praktek
pembuatan keputusan. Selalu mudah untuk membuat kritik dan saran orang lain
dalam tempat lain, tetapi jika kita berpegang teguh pada aspek konjungsi kajian
budaya kita, kita harus menghadapi profesi kita sendiri yang sering terjadi dalam
konteks pendidikan yang lebih tinggi. Sterne mengatakan “karakiteristik dalam
mengklaim bahwa penggunaan ‘Kajian Budaya’ pada Internet seharusnya diukur
dengan tahap yang mana penelitian tersebut dapat membuat pembacanya untuk
berpikir”. Nah di sini dijelaskan bahwa kajian budaya merupakan sebuah dorongan
antitetik yang jelas pada motivasi para praktisinya, tetapi karena kajian budaya
ini sulit untuk menemukan jalan teori dalam pengidentifikasian ahli budayanya
sebagai technophilic, technophobik atau oportunistik maka akan jelas sekali bahwa
ada pekerjaan yang belum dijalankan.